Lelaki itu memasuki istana barunya yang hampir kosong. Duduk di sebuah kursi, satu dari beberapa perabot yang tersisa, lelaki itu termangu membisu, sementara istrinya, Abigail, yang saat itu telah menjadi first lady, menghibur diri dengan menyapu lantai istana kepresidenan Amerika Serikat yang seluruh perabotnya habis “dijarah” semenjak kepergian presiden pertama, George Washington. Laki-laki itu adalah John Adams, presiden kedua negeri Paman Sam, salah satu perwakilan dari tiga belas negara bagian yang ambil bagian dalam Kongres yang menghasilkan Declaration of Independence, bulan Juli 1776.
Adegan di atas, ketika John Adams dan Abigail memasuki istana presiden di Philadelphia di atas adalah satu dari sekian adegan dari film seri John Adams yang paling menarik dan menyentuh, suatu keadaan yang amat kontras dengan jabatan presiden AS yang amat prestisius itu. Lebih dari itu, boleh dikatakan bahwa Adams adalah seorang lelaki sederhana yang tidak hidup secara ekstravaganza melainkan dalam rumah tangga yang sangat biasa, bahkan tergolong sangat sederhana. Ia merupakan satu-satunya founding fathers yang tidak memiliki budak, sesuatu yang cukup tidak lazim pada zaman itu.
Tahun-tahun setelah pernyataan kemerdekaan tahun 1776 merupakan saat yang berat bagi Adams, karena ia harus berpisah dengan keluarganya, menjalani misi diplomatis (1778-1788) di Perancis, kemudian di Nederland untuk mendapatkan dukungan bagi perjuangan rakyat Amerika Serikat. Perjuangannya di Eropa diawali dengan kegagalan, bahkan sedikit konflik dengan teman sesama founding fathers, Ilmuwan Benjamin Franklin. Adams menjadi presiden AS pada tahun 1797 s.d. 1801 menggantikan Washington yang memilih berhenti, meskipun memiliki kesempatan untuk tetap menjabat sebagai presiden.
Beberapa persoalan personal mewarnai akhir masa jabatannya. Charles, anaknya, terpuruk dalam alkoholisme, sementara hubungannya dengan Thomas Jefferson mencapai titk nadir. Mereka bukan hanya bersebrangan dalam pandangan politik, namun bahkan sampai pada kebencian personal yang mereka bawa sampai pada masa tua mereka. Tahun-tahun setelah tidak lagi menjabat sebagai presiden merupakan periode yang sangat dinamis bagi Adams. Keluarga Adams kembali ke Peacefield, Massachusetts, kembali menjadi petani. Ada tragedi, Nabby, anak pertamanya meninggal karena kanker payudara, tetapi terdapat juga kegembiraan pada usia 90: John Quincy Adams, akhirnya menjadi presiden AS ke-6.
Masa-masa akhir hidup Adams adalah potret seorang negarawan dan ksatria sejati. Ia sangat chivalrous. Bukti otentiknya adalah korespondensi yang intensif dan hangat antara Peacefield, tempat tinggal Adams, dengan Moticello, rumah Jefferson. Keduanya memiliki niat baik untuk saling memberi penjelasan atas perselisihan sengit yang mewarnai masa muda dua orang besar ini. Konon, kata terakhir yang diucapkan Adams pada saat sakrat mautnya adalah nama Jefferson, yang telah meninggal dunia beberapa jam sebelumnya, pada hari yang sama 4 Juli 1826, pada peringatan 50 tahun Kemerdekaan negara yang turut mereka dirikan.
Satu lagi teladan kesederhanaan dan sikap ksatria, chivalry.


