Tiba-tiba aku ingat sosok majoor Verbruggen. Kata-katanya kala itu: “Ya, emosi lagi. Orang Jawa itu punya kanker, emosi namanya. Tapi mereka serdadu, kau perwira. Itu lain. Sudahlah! Saya bukan gurumu, bukan pendidikmu. Pokoknya, awas!”
……entah kenapa aku ingat percakapan itu…………
[lih. Burung-Burung Manyar]
…suatu usaha untuk mengenang peran suatu tempat di pinggiran Kota Lama Semarang (Old Semarang) dalam sejarah. Bangunan batu bata terekspos sebagai salah satu landmark dari deratan wilayah ini. Hampir semuanya merupakan bangunan yang dapat ditelusuri hingga akhir abad ke-19, tepatnya antara tahun 1875 hingga awal abad ke-20, i.e. Gereja Gedangan dan kompleks susteran Fransiskanes.
Di tempat ini pernah lalu-lalang para “raksasa sejarah” Keuskupan Agung Semarang. Patres Frans van Lith (Kang binapa bapa wong Jawa-demikian tulisan singkat di kaki patung beliau di Bethlehem van Java, Muntilan), Simon Beekman (rasul perintis di antara kaumTionghoa Semarang), Hoevenaars (Jesuit sinterklaas), dan tentu Rama Kanjeng Albert Soegijapranata, untuk menyebut beberapa yang menjadi kebanggaan kami.
Aku beruntung dan diberkati, karena boleh menikmati “odor” kesucian dan kerja keras mereka, serta jejak yang ditinggalkan oleh para raksasa itu. Di tempat yang sama di mana jejak langkah mereka tercetak, kini aku juga menjejakkan langkah dan tinggal.
“the ultimate attraction is the unknown“, kata Alex Lowe.
Akhirnya ia memang gugur ketika menghadapi the unknown yang baginya merupakan hal yang paling menarik itu!
Hari-hari ini, the unknown ternyata merupakan “my ultimate fear”!
God, help me to love it so!