h1

JOHN ADAMS

October 6, 2009

Lelaki itu memasuki istana barunya yang hampir kosong. Duduk di sebuah kursi, satu dari beberapa perabot yang tersisa, lelaki itu termangu membisu, sementara istrinya, Abigail, yang saat itu telah menjadi first lady, menghibur diri dengan menyapu lantai istana kepresidenan Amerika Serikat yang seluruh perabotnya habis “dijarah” semenjak kepergian presiden pertama, George Washington. Laki-laki itu adalah John Adams, presiden kedua negeri Paman Sam, salah satu perwakilan dari tiga belas negara bagian yang ambil bagian dalam Kongres yang menghasilkan Declaration of Independence, bulan Juli 1776.

Adegan di atas, ketika John Adams dan Abigail memasuki istana presiden di Philadelphia di atas adalah satu dari sekian adegan dari film seri John Adams yang paling menarik dan menyentuh, suatu keadaan yang amat kontras dengan jabatan presiden AS yang amat prestisius itu. Lebih dari itu, boleh dikatakan bahwa Adams adalah seorang lelaki sederhana yang tidak hidup secara ekstravaganza melainkan dalam rumah tangga yang sangat biasa, bahkan tergolong sangat sederhana. Ia merupakan satu-satunya founding fathers yang tidak memiliki budak, sesuatu yang cukup tidak lazim pada zaman itu.

Tahun-tahun setelah pernyataan kemerdekaan tahun 1776 merupakan saat yang berat bagi Adams, karena ia harus berpisah dengan keluarganya, menjalani misi diplomatis (1778-1788) di Perancis, kemudian di Nederland untuk mendapatkan dukungan bagi perjuangan rakyat Amerika Serikat. Perjuangannya di Eropa diawali dengan kegagalan, bahkan sedikit konflik dengan teman sesama founding fathers, Ilmuwan Benjamin Franklin. Adams menjadi presiden AS pada tahun 1797 s.d. 1801 menggantikan Washington yang memilih berhenti, meskipun memiliki kesempatan untuk tetap menjabat sebagai presiden.

Beberapa persoalan personal mewarnai akhir masa jabatannya. Charles, anaknya, terpuruk dalam alkoholisme, sementara hubungannya dengan Thomas Jefferson mencapai titk nadir. Mereka bukan hanya bersebrangan dalam pandangan politik, namun bahkan sampai pada kebencian personal yang mereka bawa sampai pada masa tua mereka. Tahun-tahun setelah tidak lagi menjabat sebagai presiden merupakan periode yang sangat dinamis bagi Adams. Keluarga Adams kembali ke Peacefield, Massachusetts, kembali menjadi petani. Ada tragedi, Nabby, anak pertamanya meninggal karena kanker payudara, tetapi terdapat juga kegembiraan pada usia 90: John Quincy Adams, akhirnya menjadi presiden AS ke-6.

Masa-masa akhir hidup Adams adalah potret seorang negarawan dan ksatria sejati. Ia sangat chivalrous. Bukti otentiknya adalah korespondensi yang intensif dan hangat antara Peacefield, tempat tinggal Adams, dengan Moticello, rumah Jefferson. Keduanya memiliki niat baik untuk saling memberi penjelasan atas perselisihan sengit yang mewarnai masa muda dua orang besar ini. Konon, kata terakhir yang diucapkan Adams pada saat sakrat mautnya adalah nama Jefferson, yang telah meninggal dunia beberapa jam sebelumnya, pada hari yang sama 4 Juli 1826, pada peringatan 50 tahun Kemerdekaan negara yang turut mereka dirikan.

Satu lagi teladan kesederhanaan dan sikap ksatria, chivalry.

h1

Chivalry

August 16, 2009

Sikap ksatria, itulah terjemahan terdekat yang aku pahami dari kata dalam judul di atas. Setiap kata mewakili suatu konsep tertentu. Aku masih ingat Pater Madyasusanto, guru bahasa Latin di Mertoyudan selalu mengingatkan pentingnya menguasai banyak bahasa. Dengan tahu banyak bahasa, semakin banyak konsep pula yang dapat diketahui dan pahami. suatu kata juga memiliki silsilahnya sendiri, baik dalam arti etimologis maupun dalam arti personal, di mana seseorang memahami arti kata itu. Saya duga ini terkait dengan memori atas konteks ketika kata itu dipelajari. Kata chivalry aku pahami ketika membaca buku Rommel, biografi Jenderal yang menjadi pujaanku, Erwin Rommel si Musang Padang Gurun. Dan persis aku ingat kata itu masuk dalam kesadaran diri saya di atas kereta dalam perjalanan dari Yogyakarta ke Jakarta beberapa tahun yang lalu.

Mengomentari pribadi Rommel, Field-Marshal Sir Claude Auchinleck, menuliskan “Jika saya harus katakan, dia [Rommel] sekarang telah tiada, bahwa saya menghormati dia sebagai sesama tentara dan sesama manusia, dan bahwa saya sangat menyesalkan cara kematiannya,  mungkin akan dituduh sebagai bagian dari apa yang oleh Mr. Bevin disebut ‘kongsi dagang para jenderal’. Jika benar bahwa persahabatan seperti itu memang ada, keanggotaannya bukan lain merupakan pengakuan akan kemampuan musuh yang ia sendiri ingin miliki, penghormatan akan musuh yang memiliki keberanian, kemampuan, dan perasaan tidak tega, serta keinginan untuk melihat ia diperlakukan sebagaimana dirinya ingin diperlakukan apabila berada pada pihak yang kalah. Hal ini sering disebut seabgai chivalry, sesuatu yang untuk zaman sekarang dianggap omong kosong, dan bahwa perasaan tersebut merupakan bagian dari masa lalu. Jika memang demikian, maka saya sungguh menyesalkannya.” Ringkasnya boleh dikatakan bahwa Rommel adalah musuh besar Auchinleck. Ini bukan berarti bahwa Auchinleck benci dengan Rommel secara pribadi, bahkan ia sangat menghormatinya, meskipun pada kenyataannya Rommel pernah memukul mundur pasukan Auchinleck di medan tempur Afrika Utara, tahun 1942.

Kemarin malam saja kembali menemukan tulisan singkat mengenai sikap ksatria ini. Dalam khasanah sejarah misi Katolik di Jawa Tengah, visi Pater  van Lith yang memang brillian sering diperlawankan dengan visi Pater Hoevenaars yangdengan optimisme dan semangat serta kepandaian berkhotbah berhasil membaptis banyak orang. Memang demikian, visi van Lith dianggap sebagai yang paling tepat untuk Jawa Tengah, hingga akhirnya Hoevenaars dipindah ke Cirebon. Tetapi pada tahun 1924 Hoevenaars kembali ke Jawa Tengah, kali ini memimpin paroki Purbayan di Surakarta. Di sanalah, pada usia 64 tahun ia menunjukkan sikap ksatrianya, dengan menerima visi van Lith, rivalnya, bahwa kristinitas diperkenalkan melalui pendidikan.

Masih adakah makluk yang bernama chivalry itu?

h1

Kanker

September 25, 2008

Tiba-tiba aku ingat sosok majoor Verbruggen. Kata-katanya kala itu: “Ya, emosi lagi. Orang Jawa itu punya kanker, emosi namanya. Tapi mereka serdadu, kau perwira. Itu lain. Sudahlah! Saya bukan gurumu, bukan pendidikmu. Pokoknya, awas!”
……entah kenapa aku ingat percakapan itu…………

[lih. Burung-Burung Manyar]