Pagi di balkon rumah. Kulihat tiga kupu-kupu kuning. Mula-mula mereka bertiga, lama-kelamaan satu dari mereka berpisah, dan akhirnya masing-masing terbang sendiri. Entah apakah mereka akan bersatu kembali.
Lantas kuingat kisah film The Warlords yang pernah kutonton. Tiga “saudara darah” (blood brothers—ini mengingatkan pada: “Brother to brother, yours in life and death”, sumpah ksatria zaman Raja Arthur) yang akhirnya berpisah sendiri-sendiri dalam jalan menuju kepahlawanan. Namun hanya satu yang sungguh-sungguh pahlawan, yakni Er-He. Ia loyal dan setia pada sikap ksatria, tipe panglima pasukan Sung, Duke Hsiang. “Katakan kepada kakak tertua bahwa aku akan menjadi pahlawan”, demikian pesan Er-He kepada Lian untuk disampaikan kepada Pang. Akhirnya memang benar, ia memilih setia pada jalan sebagai ksatria sejati, yang bukan lain menghargai hak-hak yang dimiliki oleh empat ribu tentara musuhnya yang telah menyerah oleh suatu strategi siege. Dalam kelaparan mereka mengenang bagaimana Yesus memberi makan kepada lima ribu orang, namun setelah mendapat roti mereka harus menghabisi empat ribu balatentara musuh yang telah menyerah. Alasannya terlalu sederhana dan tipikal petarung: necessity! Memberikan makan kepada mantan tentara musuh berarti kekalahan untuk pertempuran selanjutnya: penaklukan Nanjing. Sedemikian pentingnyakah penaklukan Nanjing bagi kemanusiaan sebagaimana dikatakan oleh Jenderal Pang?
Saudara darah berakhir dengan pertumpahan darah di antara ketiganya. Pertarungan antara ksatria sejati yang terkesan naif, fiat justitia ruat coelum (jadilah keadilan meskipun langit runtuh) versus petualang yang berpikiran all’s fair in love and war / inter arma silent leges (dalam perang segala aturan bungkam).
