h1

that’s what friends are for

April 26, 2008

Tempo hari aku nonton The Forbidden Kingdom. Pertemuan Jet Li dan Jackie Chan dalam satu film tentu menjadi kredit tersendiri. Perjumpaan-perjumpaan yang mengesankan, demikian kukira titik-titik yang terbentuk melalui alur cerita. Perjumpaan pemuda pengelana yang terlempar ke zaman lampau dengan guru Lu merupakan titik balik yang signifikan. Dalam perjumpaan itu terdapat dialog yang mengesankan.”I don’t understand you”, pemuda itu menggugat. ”That’s because you’re not listening!!” jawab ksatria Lu. Dialog singkat itu mengubah ”bahasa” seluruh cerita sehingga setiap tokoh dapat saling memahami karena menggunakan ”bahasa” yang sama-sama terpahami. Akhirnya, pemuda itu mengakui bahwa Lu adalah teman dan sekaligus gurunya (“friend and my good teacher”).

Bahasa ada untuk diujarkan dan untuk didengarkan. Di sini kukira kapasitas dan kualitas seorang teman ditentukan. Beberapa hari lalu seseorang bertanya: ”siapa hero-mu dalam hari-hari ini?” ”Seorang sahabat yang mendengarkanku”, jawabku singkat. Menjadi pendengar yang baik bukan perkara mudah. Aku jadi ingat seorang teman yang menderita sakit, yang kadang-kadang hanya ingin bercerita ”aku sakit!” atau menceritakan litani rasa sakit yang ia derita. Bahkan untuk sekedar mendengarkannya saja aku tidak sanggup. Ketidaksanggupan untuk menjadi pendengar kadang muncul karena kita berpretensi untuk menjadi seorang penolong, seorang pahlawan. Padahal, bahkan hanya sekedar mendengar pun, kita telah menjadi seorang hero. Dalam kapasitas untuk mendengarkan terdapat logika dan rasionalitas persahabatan. Untuk itulah arti seorang teman. Dengan menjadi pendengar seseorang seolah mengatakan ”keep smiling, knowin’ you can always count on me, for sure!” Itulah teman, ”that’s what friends are for”, kata Stevie Wonder. (\surjo)

Leave a Comment