h1

Chivalry

August 16, 2009

Sikap ksatria, itulah terjemahan terdekat yang aku pahami dari kata dalam judul di atas. Setiap kata mewakili suatu konsep tertentu. Aku masih ingat Pater Madyasusanto, guru bahasa Latin di Mertoyudan selalu mengingatkan pentingnya menguasai banyak bahasa. Dengan tahu banyak bahasa, semakin banyak konsep pula yang dapat diketahui dan pahami. suatu kata juga memiliki silsilahnya sendiri, baik dalam arti etimologis maupun dalam arti personal, di mana seseorang memahami arti kata itu. Saya duga ini terkait dengan memori atas konteks ketika kata itu dipelajari. Kata chivalry aku pahami ketika membaca buku Rommel, biografi Jenderal yang menjadi pujaanku, Erwin Rommel si Musang Padang Gurun. Dan persis aku ingat kata itu masuk dalam kesadaran diri saya di atas kereta dalam perjalanan dari Yogyakarta ke Jakarta beberapa tahun yang lalu.

Mengomentari pribadi Rommel, Field-Marshal Sir Claude Auchinleck, menuliskan “Jika saya harus katakan, dia [Rommel] sekarang telah tiada, bahwa saya menghormati dia sebagai sesama tentara dan sesama manusia, dan bahwa saya sangat menyesalkan cara kematiannya,  mungkin akan dituduh sebagai bagian dari apa yang oleh Mr. Bevin disebut ‘kongsi dagang para jenderal’. Jika benar bahwa persahabatan seperti itu memang ada, keanggotaannya bukan lain merupakan pengakuan akan kemampuan musuh yang ia sendiri ingin miliki, penghormatan akan musuh yang memiliki keberanian, kemampuan, dan perasaan tidak tega, serta keinginan untuk melihat ia diperlakukan sebagaimana dirinya ingin diperlakukan apabila berada pada pihak yang kalah. Hal ini sering disebut seabgai chivalry, sesuatu yang untuk zaman sekarang dianggap omong kosong, dan bahwa perasaan tersebut merupakan bagian dari masa lalu. Jika memang demikian, maka saya sungguh menyesalkannya.” Ringkasnya boleh dikatakan bahwa Rommel adalah musuh besar Auchinleck. Ini bukan berarti bahwa Auchinleck benci dengan Rommel secara pribadi, bahkan ia sangat menghormatinya, meskipun pada kenyataannya Rommel pernah memukul mundur pasukan Auchinleck di medan tempur Afrika Utara, tahun 1942.

Kemarin malam saja kembali menemukan tulisan singkat mengenai sikap ksatria ini. Dalam khasanah sejarah misi Katolik di Jawa Tengah, visi Pater  van Lith yang memang brillian sering diperlawankan dengan visi Pater Hoevenaars yangdengan optimisme dan semangat serta kepandaian berkhotbah berhasil membaptis banyak orang. Memang demikian, visi van Lith dianggap sebagai yang paling tepat untuk Jawa Tengah, hingga akhirnya Hoevenaars dipindah ke Cirebon. Tetapi pada tahun 1924 Hoevenaars kembali ke Jawa Tengah, kali ini memimpin paroki Purbayan di Surakarta. Di sanalah, pada usia 64 tahun ia menunjukkan sikap ksatrianya, dengan menerima visi van Lith, rivalnya, bahwa kristinitas diperkenalkan melalui pendidikan.

Masih adakah makluk yang bernama chivalry itu?

Leave a Comment