Tidak genap setengah tahun setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia, pada 3 Januari 1946 Sukarno dan Hatta meninggalkan Jakarta yang telah diduduki Netherlands-Indies Civil Administration (NICA) dan hijrah menuju ibukota republik, Yogyakarta. Di Yogyakarta mereka disambut dengan tangan terbuka, bahkan kemudian Sultan HB IX menghibahkan uang sebesar 6 juta Gulden kepada Sukarno sebagai modal untuk menjalankan Republik.
Rabu, 4 Januari 2012, 66 tahun kemudian, kedatangan dua pemimpin republik di Yogyakarta itu dikenang dan dihidupkan dalam sebuah pawai dan upacara indah, lengkap dengan impersonator Sukarno, Sultan HB IX dan Generaal Sudirman. Tak tanggung-tanggung, sang Proklamator diarak dari Kepatihan menuju Gedung Istana Presiden menggunakan mobil tua, rupanya dari jenis yang sama yang digunakan Sukarno waktu itu, diiringi dengan mobil-mobil Jeep (GP) zaman perang. Sementara Sang Jenderal jangkung itu memilih berjalan kaki, lengkap dengan jas, iket, keris, tongkat penyangga tubuh, sandal selop dan sweater pull over. (*Ternyata setelah diperhatikan mirip dengan yang digunakan General Bernard Montgomery of El Alamein).
Melihat peristiwa itu, orang yang sedang atau baru saja belajar ilmu tafsir filosofis dan masih ingat secara lamat-lamat nama William Dilthey akan berkomentar: ini sebuah transposisi atau rekonstruksi demi menyelami kembali makna peristiwa itu enam dekade yang lalu. Bagi saya pesannya ringkas, cekak aos: “jangan lupa! Jangan pernah lupa!”

Lupa biasanya tidak disengaja. Lupa menjadi sebuah isyarat keasyikan seseorang pada dunianya, sehingga hal-hal lain tak punya slot lagi di memoria. Tetapi, kini, lupa bisa dijadikan “senjata pamungkas” untuk sebuah alibi. Setelah itu habis perkara! Sejauh surat kabar Indonesia memberitakan, lupa menjadi semakin menjijikkan lantaran menjadi suaka untuk lari dari tanggung jawab. Satu ikonnya, katakanlah yang sedang banyak disorot, adalah Nunun Nurbaeti. Orang ini tiba-tiba lupa segala sesuatu, lepas dari pembuktian obyektif apakah ia memang terserang amnesia total, meski kabar kemaring mengatakan bahwa ia ingat segala-galanya yang ditanyakan penyidik. Nah! Kini ia rupanya lupa bahwa pernah punya penyakit lupa!
Lupa bisa terkait dengan urusan yang serba besar tapi juga yang remeh temeh. Kerusakan lingkungan, misalnya, boleh jadi karena orang lupa akan masa depan, melupakan generasi yang akan datang. Demikian juga dengan hal sepele yang semestinya menjadi common sense, semisal orang bekendara secara ugal-ugalan, apalagi sengaja menghilangkan kaca spion di kendaraannya sehingga ia sengaja membuat diri lupa bahwa ia tidak sendirian di jalan raya, ada orang di belakangnya.
Penyakit lupa adalah persoalan manusia dengan dimensi kedalaman dan keluasannya, sebab dengan keadaan lupa, manusia menjadi monad, unit yang terpisah dari kenyataan lain kecuali dirinya sendiri. Gawat, bukan?
Moga-moga tidak lupa, apa lagi membuat diri lupa, dan lebih parah lagi, pura-pura lupa bahwa pernah tidak lupa!?!