Seindah nada yang kulantunkan
semanis paras yang kau tampilkan
aku bisa berjalan di bulan
menyelam di bumi karena engkau
membelah lautan, melayang di udara
itu semua hanya karena engkau
Diriku bisa berbuat dan berpikir,
Sarasvati rupa mahasuci
sinar hidupnya dengan dengan teratai cinta
Pujaanku mahadewi Sarasvati
untaian nada yang kautuliskan di hatiku
…seperti rindu [nyanyian dharma "saraswati"]
P
rambanan, 11.01.2012, masing-masing juru foto telah siap dengan peralatan “tempur” mereka, siap membidik setiap gerak-gerik para pemeran panggung: Ayu Laksmi, Dewa Budjana, Laksmi Dewi, Trie Utami, Mr. Botax, et al. Pagelaran bertajuk “Sembah Sujud, Doa Pertiwi: Nusantara Harmoni” di pelataran Candi Prambanan ini ingin menggarisbawahi Nusantara sebagai rumah harmoni. Acara dibuka dengan pentas mantra dari komunitas Sunda Wiwitan, dilanjutkan dengan band rock Mr. Botax yang membawakan lagu beraliran keras dengan nuansa Bali, baru kemudian kelompok Nyanyian Dharma menyuguhkan nyanyian dengan balutan tarian yang digarap apik. Peristiwa seni ini menjadi sarat mantra, kesannya “wingit” sekaligus indah.
Nyanyian bertajuk “Saraswati” menjadi salah satu tampilan yang paling menarik. Bukan hanya karena memang lagunya bagus, tapi lantaran menunjukkan bahwa peristiwa budaya ini menjadi sebuah ungkapan kekaguman terhadap Sarasvati, Dewi pengetahuan, seni, puisi yang diyakini sebagai sosok ilahi yang memungkinkan manusia mencapai kesadaran pengetahuan dan mengembangkan rasionalitasnya. Berkat Sarasvati manusia bisa sampai kepada kesadaran akan yang berada di luar dirinya, bisa “berjalan di bulan, … membelah lautan, melayang di udara”.
Sarasvati selalu digambarkan sebagai perempuan berparas menawan dengan empat lengan, masing-masing memegang alat musik, tasbih, buku dan tabung air suci, pralambang kebudayaan/seni, kerohanian, pengetahuan dan kekuatan kreatif. Selain itu Mahadewi cantik ini selalu digambarkan beralaskan lembaran teratai, yang konon melambangkan kesejatian diri.
Pada akhirnya pagelaran “Sembah sujud, doa pertiwi: Nusantara harmoni” adalah sebuah ode buat Sarasvati. Ungkapan kekaguman memang pantas dilayangkan padanya: berparas cantik, cerdas, suci, berjiwa seni, puitis, memiliki kesejatian diri. Komplit … dan kompleks. Nusantara memang merindukan sosok Sarasvati, “untaian nadanya, yang ia tanam di hati kita”. Dalam Sarasvati ada pengetahuan, nalar, seni, kesejatian. Di sana terjadi perpaduan antara–menggunakan percakapan dalam Surat Thomas Jefferson (yang belum usai diupload juga!!)–kepala dan hati,–atau mungkin dalam bahasa kontemporer–berbagai macam kecerdasan. Sarasvati adalah harmoni.
Kebetulan sebelum ke Prambanan saya sempatkan mampir dan tetirah di Kompleks Plaosan. Banyak patung Boddhi di sana, tapi sebagian besar tidak lagi berkepala; hanya dada yang membusung isyarat kebesaran hati yang telah terbebas dari hasrat. Mengapa kepala mereka tumbang? Sengaja dimutilasi? Aksi wangsa Vandal? Entah, tapi muncul intuisi jangan-jangan itu menjadi pertanda bahwa kita, pewaris kebesaran para pembangun Kompleks Plaosan dan Prambanan etc., adalah generasi tanpa kepala, orang-orang yang–entah segaja atau tidak–mengerdilkan nalar dan tidak lagi rasional.
Memang tidak kebetulan jika Sarasvati saya hubungkan dengan rasionalitas. Pagi sebelumnya, dalam omong-omong dengan Romo Profesor Paul Suparno, banyak disinggung mengenai rasionalitas sebagai salah satu keprihatinan bangsa. Terjadi kemalasan untuk berpikir, sehingga banyak hal tidak sempat terjelaskan duduk perkaranya dan langsung dieksekusi sesuai dengan dorongan spontan. Instingtif? Boleh jadi, tapi bisa juga karena tidak ada keberanian melihat sesuatu secara jernih. Mungkinkan akurasi sebuah eksekusi tindakan terjamin apabila tanpa didahului oleh kejernihan nalar? Bukan mustahil, memang, tapi apakah ada jaminan?
Jika benar demikian, Dewi Sarasvati, “untaian nada yang kautulis di hatiku..seperti rindu …”. Karena kami, manusia-manusia tak berkepala, merindukan pancaran pengetahuan dan nalar itu, hati seni dan kesejatian diri, yang selalu kau bawa ke mana-mana dalam genggaman empat lengan indah itu.
Berkat Sarasvati,
Diriku bisa berbuat dan berpikir,
Sarasvati rupa mahasuci
sinar hidupnya dengan dengan teratai cinta
Pujaanku mahadewi Sarasvati…
