about me

Menyitir Sidney Poitiers, “I am the me I choose to be“. Cuma lebih sering saya bukan memilih siapa diri saya, tetapi terkondisikan untuk mendefinisikan diri saya. Singkatnya, saya seorang mahasiswa. Suryo atau Surjo, demikian orang memanggil saya.

Pada tahun 2000 saya berkenalan dengan Burung-Burung Manyar. Kebetulan (atau bukan kebetulan?) waktu itu saya tinggal di sebelah selatan Magelang, kota garnisun itu, yang menjadi salah satu latar novel tersebut. Tapi yang jelas novel itu memantik saya untuk semakin banyak membaca, dimulai dari naskah-naskah  “Mangunwijayan”, dan pada karya orang lain. Membaca terkait erat dengan menulis, demikian pula sebaliknya. Moga-moga corat-coret ini (yang akan sering tanpa alur jelas atau mirip gado-gado gagasan) menjadi tempat saya latihan menulis dengan cara mengujarkan kata-kata yang tak sempat terucapkan di medan perjumpaan harian.

Akhirnya saya kutip beberapa baris dari sambutan Mangunwijaya ketika menerima award dari Ratu Sirikit atas  Burung-Burung Manyar.

Whatever you cannot talk about, you shall be silent on,”

once said the wise Wittgenstein.

But often sometimes, and somehow,

someone is obliged not to be silent even if he or she cannot talk about anything.

so once upon a time

some “Manyar-Birds” flapped their unexperienced wings

to fly and sing the stories of the hearts of their silent brothers and sisters

before pure little children who do like stories.

home: ploceusmanyar