h1

Nazareth van Java

July 19, 2008

…suatu usaha untuk mengenang peran suatu tempat di pinggiran Kota Lama Semarang (Old Semarang) dalam sejarah. Bangunan batu bata terekspos sebagai salah satu landmark dari deratan wilayah ini. Hampir semuanya merupakan bangunan yang dapat ditelusuri hingga akhir abad ke-19, tepatnya antara tahun 1875 hingga awal abad ke-20, i.e. Gereja Gedangan dan kompleks susteran Fransiskanes.

Di tempat ini pernah lalu-lalang para “raksasa sejarah” Keuskupan Agung Semarang. Patres Frans van Lith (Kang binapa bapa wong Jawa-demikian tulisan singkat di kaki patung beliau di Bethlehem van Java, Muntilan), Simon Beekman (rasul perintis di antara kaumTionghoa Semarang), Hoevenaars (salah satu pioneer Misi Jawa yang bersemangat dan antusias-flamboyan), dan tentu Rama Kanjeng Albert Soegijapranata, untuk menyebut beberapa yang menjadi kebanggaan kami.

Aku beruntung dan diberkati, karena boleh menikmati “odor” kesucian dan kerja keras mereka, serta jejak yang ditinggalkan oleh para raksasa itu. Di tempat yang sama di mana jejak langkah mereka tercetak, kini aku juga menjejakkan langkah dan tinggal.

h1

ultimate attraction or fear?

May 26, 2008

“the ultimate attraction is the unknown“, kata Alex Lowe.

Akhirnya ia memang gugur ketika menghadapi the unknown yang baginya merupakan hal yang paling menarik itu!

Hari-hari ini, the unknown ternyata merupakan “my ultimate fear”!

God, help me to love it so!

h1

that’s what friends are for

April 26, 2008

Tempo hari aku nonton The Forbidden Kingdom. Pertemuan Jet Li dan Jackie Chan dalam satu film tentu menjadi kredit tersendiri. Perjumpaan-perjumpaan yang mengesankan, demikian kukira titik-titik yang terbentuk melalui alur cerita. Perjumpaan pemuda pengelana yang terlempar ke zaman lampau dengan guru Lu merupakan titik balik yang signifikan. Dalam perjumpaan itu terdapat dialog yang mengesankan.”I don’t understand you”, pemuda itu menggugat. ”That’s because you’re not listening!!” jawab ksatria Lu. Dialog singkat itu mengubah ”bahasa” seluruh cerita sehingga setiap tokoh dapat saling memahami karena menggunakan ”bahasa” yang sama-sama terpahami. Akhirnya, pemuda itu mengakui bahwa Lu adalah teman dan sekaligus gurunya (“friend and my good teacher”).

Bahasa ada untuk diujarkan dan untuk didengarkan. Di sini kukira kapasitas dan kualitas seorang teman ditentukan. Beberapa hari lalu seseorang bertanya: ”siapa hero-mu dalam hari-hari ini?” ”Seorang sahabat yang mendengarkanku”, jawabku singkat. Menjadi pendengar yang baik bukan perkara mudah. Aku jadi ingat seorang teman yang menderita sakit, yang kadang-kadang hanya ingin bercerita ”aku sakit!” atau menceritakan litani rasa sakit yang ia derita. Bahkan untuk sekedar mendengarkannya saja aku tidak sanggup. Ketidaksanggupan untuk menjadi pendengar kadang muncul karena kita berpretensi untuk menjadi seorang penolong, seorang pahlawan. Padahal, bahkan hanya sekedar mendengar pun, kita telah menjadi seorang hero. Dalam kapasitas untuk mendengarkan terdapat logika dan rasionalitas persahabatan. Untuk itulah arti seorang teman. Dengan menjadi pendengar seseorang seolah mengatakan ”keep smiling, knowin’ you can always count on me, for sure!” Itulah teman, ”that’s what friends are for”, kata Stevie Wonder. (\surjo)